Membangun Image Peternakan Nasional

Belum lama ini kita mendengar berita adanya sebuah peternakan ayam yang ‘dibongkar paksa’ oleh warga masyarakat. Tuntutan warga dilatar belakangi karena dampak yang ditimbulkan peternakan ayam tersebut seperti menimbulkan polusi udara (bau yang menyengat). Bahkan wargapun beralasan takut tertular flu burung karena peternakan tersebut berada di tengah pemukiman warga.

Permasalahan-permasalahan tersebut setidaknya kembali menyadarkan kita, sejauh itukah potret peternakan kita? Sejelek itukah sehingga peternakan ayam (Baca: Perunggasan) harus dibongkar? Seburuk itukah image peternakan nasional kita?. Padahal Peternakan ayam (perunggasan) merupakan sektor peternakan yang sangat berperan penting dalam pembangunan sebuah bangsa. Fungsi perunggasan sebagai penyedia protein asal hewani dan penghasil devisa negara menjadi alasan mendasar bahwa perunggasan merupakan sektor yang cukup menjanjikan. Bahkan peternakan merupakan sektor yang cukup riil dalam pembangun bangsa. Hampir diseluruh daerah di Indonesia kita temukan peternakan, baik peternakan yang berskala kecil maupun peternakan yang berskala besar. Bahkan menurut menteri pertanian (Mentan) Anton Apriyantono sub sektor peternakan telah menjadi salah satu sumber pertumbuhan yang tinggi disektor pertanian. Sejak tahun 2003 sub sektor ini telah mampu bangkit dari terpaan krisis tahun 1998-1999.

level produksi seluruh komoditas peternakan sudah melampaui level tertinggi periode sebelum krisis. Kemampuan peternakan untuk eksis dalam menghadapi badai krisis ekonomi ini dapat pula dilihat pada tahun 2000-2003, laju peningkatan produksi ayam broiler dan petelur berturut-turut mencapai 23,4 dan 10,27 persen pertahun, padahal saat krisis ekonomi pernah mengalami penurunan yang sangat tajam, yaitu masing-masing 28,23 dan 8,92 persen per tahun.

Selain itu, peternakan juga berperan dalam menyediakan dan membuka lapangan pekerjaan kepada 2,54 juta masyarakat Indonesia yang bekerja disektor ini, yang tersebar baik dipedesaan maupun di perkotaan, sehingga dapat mengurangi pengangguran dan kemiskinan yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2006 naik 3,95 juta menjadi 39,05 juta (17,75%) dibandingkan data Februari 2005 sebesar 35,10 juta (15,97%). Bahkan, sektor peternakan merupakan sektor yang mampu menghasilkan kebutuhan protein hewani, yang berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Produk-produk peternakan seperti misalnya Telur, susu dan daging mempunyai kandungan nutrisi sebagai sumber protein dengan komposisi asam amino essensial yang dibutuhkan tubuh, terutama perkembangan otak manusia yang keberadaannya tidak dapat digantikan (selain dengan produk perikanan seperi udang, ikan). Apalagi konsumsi ayam masyarakat Indonesia masih sangat rendah hanya sekitar 4,4 kg/kapita/tahun dibandingkan dengan Philipina 8 kg/kapita/tahun, Thailand 15 kg/kapita/tahun dan Singapura 28 kg/kapita/tahun serta Malaysia hingga mencapai 36 kg/kapita/tahun. Sehingga perlu adanya upaya peningkatan konsumsi jika negara ini ingin mencapai tujuan (cita-citanya) sesuai amanat pembukaan UUD 1945 yakni memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Membangun Image

Dalam membangun peternakan, upaya membangun image sangat diperlukan. Hal ini tentunya dilakukan dan dilaksanakan oleh semua stacholder peternakan. Pembangunan ini setidaknya meliputi beberapa hal, yakni peningkatan mutu dan produktifitas ternak, perubahan manajemen peternakan dan menjaga aspek kesehatan ternak (hewan). Dalam manajemen peternakan, aspek perencanaan sangat menentukan. Pemilihan lokasi kandang usahakan tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk. Terapkan biosecurity dan biosafety dalam sebuah peternakan. Juga dalam mencari karyawan (anak kandang) usahakan untuk merekrut warga yang tempat tinggalnya berada disekitar area peternakan.

Bahkan terkait dengan aspek kesehatan ternak, peran dokter hewan sebagai medis veteriner menjadi poin penting dalam pembangunan peternakan. Dalam menangani kasus penyakit ternak (hewan) terutama yang dapat menular kemanusia atau sebaliknya (zoonosis) seperti flu burung, antrax dan lain sebagainya, dokter hewan harus menjadi garda terdepan. Kewenangan dokter hewan sebagai pemegang teguh otoritas veteriner harus benar-benar dioptimalkan. Jika tidak, maka wajar saja jika penyakit ternak selalu bermunculan dan kejadiannya berulang disetiap waktu. Bahkan hal ini dapat menjadi bahaya laten (tersembunyi) yang suatu saat siap menghantui (merebak).

Selain itu, penanganan penyakit ternak yang tidak pernah tuntas telah mengakibatkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Bahkan Berdasarkan hasil The Intergovermental Group (IGG) On Meat and Dairy Product yang diadakan di Roma tahun 2002, akibat letupan epidemi trans-boundary penyakit ternak menimbulkan kerugian dana dan ekonomi yang sangat besar baik di negara maju maupun negara berkembang. Ada 2 faktor utama penyebab besarnya kerugian tersebut, yaitu (a) Variasi kejadian dan penyebaran penyakit yang dipengaruhi oleh keganasan dan tingkat spesifikasi species penyakit, akan menunjukkan perluasan dampaknya terhadap sektor-sektor lainnya, (b) Kecepatan dan tipe ukuran pengawasan yang diterapkan. Umumnya negara-negara yang mengalami kerugian berlanjut adalah negara-negara yang tidak mendeteksi penyakit tersebut beberapa saat dan begitu terdeteksi sedangkan sumber dana dan sumber lainnya belum disediakan, maka penyebarannya akan sulit dikendalikan.

Perlunya Siskeswannas Tangguh

Melihat kondisi diatas maka diperlukan sebuah sistem kesehatan hewan nasional (siskeswannas) yang tangguh, baik dalam tataran konsep maupun implementasi di lapangan. Siskeswannas yang mampu melindungi peternakan nasional dari ancaman penyakit ternak dan juga mampu melindungi negara dari ancaman penyakit zoonosis. Sistem ini perlu ditopang dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai dan juga aturan/policy yang mendukung. Dengan SDM (dokter hewan/paramedis kesehatan hewan) yang memadai baik ditingkat pemerintah pusat maupun daerah diharapkan pelaksanaan proses pencegahan, pemberantasan maupun pengendalian penyakit ternak dapat dilaksanakan dengan baik. Selain SDM yang memadai, juga diperlukan aturan / policy yang mendukung sistem tersebut. Aturan yang sekarang ada (UU No. 6/ 67) kurang mendukung kesempurnaan pelaksanaan siskeswannas. Ada hal-hal penting yang belum termaktub dalam UU No. 6/67. Sebagai contoh, belum adanya sanksi bagi oknum yang melakukan pelanggaran dalam pelaksanaan siskeswannas. Bahkan sejak aturan otonomi daerah dilaksanakan bukan perbaikan pelaksanaan siskeswannas yang dihasilkan. Tetapi sebaliknya, pelaksanaaan siskeswannas menjadi tidak terarah. Hal ini disebabkan di beberapa daerah tidak ada lagi instansi yang memiliki fungsi pelayanan keswan. Selain itu juga ditemukan arogansi pemerintah daerah dalam penanganan wabah penyakit yang menyerang peternakan.

Perlu ada aturan baru yang mampu meningkatkan kesempurnaan pelaksanaan siskeswannas. Pada revisi UU No. 6/ 67 yang sekarang masih dalam tahap penyempurnaan, aturan yang mengatur mengenai penanganan kesehatan hewan (siskeswannas) sudah mengalami banyak kemajuan. Hal ini tentunya menjadi hal yang positif bagi pembangunan peternakan dan keswan nasional.

Publick Relation (PR) Peternakan

Selain upaya tersebut, dibutuhkan pula adanya sebuah Publick Relation (PR) Peternakan. Hal ini sebagai upaya untuk menyadarkan masyarakat tentang peran pentingnya untuk mengkonsumsi pangan asal produk peternakan. Selama ini stackholder peternakan cenderung mengkampanyekan dan menyadarkan baru sebatas penawaran produk dari masing-masing perusahaan. Belum ada upaya penyadaran untuk pentingnya mengkonsumsi protein atau pangan produk asal peternakan. Sehingga masyarakat hanya sebatas melihat produknya saja, tanpa melihat arti penting jika nutrisi tersebut dipenuhi atau konsekuensinya jika tidak dipenuhi. Jadi, selama peternakan masih belum mampu untuk menyadarkan arti pentingnya mengkonsumsi produk peternakan tersebut, maka masyarakat tetap menganggap pangan produk peternakan sebagai makanan sambilan yang tidak harus dipenuhi.

Dengan demikian, peternakan perlu dan sangat membutuhkan Publick Relation (PR), PR yang dilakukan bukan hanya sebatas mendirikan Humas Departemen saja atau hanya pada saat ada kasus-kasus peternakan saja (seperti kasus Flu Burung, Antrax dll) tetapi PR harus dilaksanakan secara kontinu. Sehingga dengan adanya PR tersebut membantu pihak luar sektor peternakan untuk memahami kedudukan peternakan secara proporsional dan kontekstual, dan sepakat bahwa subsektor peternakan itu, tetap jadi unggulan!

Oleh : IWAN BERRI PRIMA
Ketua Umum IMAKAHI periode 2006-2008

Tantangan Nyata Sarjana Peternakan Indonesia

Indonesia telah lama dikenal sebagai negara agraris yang sangat subur. Mayoritas penduduknya (sekitar 60% dari total populasi) hidup dari sektor pertanian dan bekerja sebagai petani, pekebun, peternak dan nelayan. Sebagai negara yang kaya akan hasil bumi maka Indonesia memliki potensi alam yang sangat besar, yang dapat dieksplorasi sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Di Indonesia ditemukan tidak kurang dari 945 jenis tanaman asli Indonesia yang terbagi menjadi 77 jenis sumber karbohidrat, 75 jenis sumber lemak/minyak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 40 jenis bahan minuman, 110 jenis rempah-rempah dan bumbu-bumbuan, serta 17% species dunia ditemukan di Indonesia. Namun dari potensi alam yang sangat besar tersebut ternyata masih banyak jenis sumber daya alam yang belum dapat diolah dan dimanfaatkan secara optimal oleh bangsa Indonesia sendiri. Ironisnya, sebagian besar kebutuhan pangan telah tergantung impor dari negara lain.

Menurut beberapa sumber disebutkan bahwa komoditas dan jumlah impor bahan pangan seperti beras 3,7 juta ton, gandum 4,5 juta ton, gula 1,6 juta ton, kedelai 1,3 juta ton, bungkil kedelai 1 juta ton, jagung 1,3 juta ton, ternak sapi 450,000 ekor, daging dan jeroan 42 ribu ton, dan susu, mentega, keju : 170 ribu ton setiap tahunnya. Data tersebut menggambarkan pemanfatan potensi alam yang kurang optimal atau karena tingginya tingkat kebutuhan akibat jumlah penduduk yang besar, sehingga kebutuhan pangan tidak dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri sendiri. Bahkan beberapa waktu yang lampau kita semua tersentak dan kaget oleh berita baik di televisi maupun mass media lain karena masih ada sebagian dari warga negara ini meskipun hidup di alam merdeka 61 tahun silam, ternyata masih ada yang mengalami gizi buruk. Di sisi lain, sebagai negara agraris tentu Indonesia memiliki peluang agribisnis yang sangat besar, antara lain karena didukung Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai. Dari segi SDM, jumlah penduduk di Indonesia tercatat nomor empat terbesar di dunia. Pada tahun 2000, populasi penduduk Indonesia mencapai 210 juta dan pada tahun 2035 diperkirakan mencapai 400 juta.

Dengan jumlah penduduk yang sangat besar tersebut maka secara otomatis merupakan potensi pasar yang luar biasa khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan termasuk kebutuhan pangan hewani asal peternakan. Dalam konteks ini peluang agribisnis peternakan terbuka luas dalam penyediaan kebutuhan konsumsi pangan dan ini merupakan salah satu tantangan nyata yang sekaligus peluang bagi para Sarjana Peternakan. Salah satu peluang dalam upaya peningkatan produksi pangan dalam negeri adalah pemanfaatan lahan kering.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa Indonesia masih mempunyai potensi lahan khususnya lahan kering (60 juta ha) yang sangat luas untuk pengembangan pertanian termasuk peternakan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana memanfaatkan lahan marginal (lahan kering) secara optimal dan apakah SDM kita sudah siap, serta strategi apa yang harus dilakukan untuk mempersiapkan SDM dalam pengembangan usaha peternakan yang berdaya saing di kawasan lahan tersebut ?

Usaha agribisnis pada umumnya dan khususnya usaha peternakan apalagi di lahan kering sampai saat ini masih belum efisien dan belum berdaya saing. Untuk membangun daya saing, usaha peternakan harus berorientasi pada pasar yaitu meliputi price, quality dan value. Persaingan pasar yang ketat menuntut pelaku bisnis untuk mampu mengatasi dan menyiasatinya dengan cara menghasilkan produk dengan harga yang relatif terjangkau dengan tetap mempertahankan kualitas yang baik. Sistem usaha tani yang seadanya dan secara tradisional belum menghasilkan keuntungan yang menggembirakan. Petani lahan kering tidak mungkin hidup jika ekonomi rumah tangganya hanya tergantung kepada hasil tanaman. Oleh karena itu, pendekatan yang tepat untuk menjawab tantangan tersebut di atas adalah melalui pendekatan sistem usahatani yang memadukan komoditas tanaman pangan/semusim dengan tanaman tahunan dan ternak dalam suatu model usahatani yang serasi dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya yang dimiliki petani. Sistem usaha tani terpadu ini diarahkan untuk memperpanjang siklus biologis dengan mengoptimalkan lahan, hasil samping pertanian, perkebunan dan peternakan sehingga setiap mata rantai siklus menghasilkan produk baru yang bernilai ekonomis (hutan-tanaman pertanian-pakan-ternak).

Di samping upaya pengembangan usaha secara terpadu, kunci keberhasilan bisnis peternakan sangat tergantung pada SDM sebagai kunci utama dengan didukung oleh minimal tiga pilar pendukung yaitu 1) lingkungan, 2) modal, dan 3) teknologi. Dari pilar pendukung yang berupa lingkungan, peranan pemerintah sangat fundamental. Diharapkan pemerintah mempunyai komitmen politik yang kuat untuk mengembangkan agribisnis peternakan melalui misalnya penerbitan peraturan perundang-undangan yang memberikan kepastian hukum dalam pembangunan peternakan yang sinergis dengan peraturan perundang undangan lain yang terkait, menciptakan iklim usaha yang kondusif (keamanan), menyediakan sarana-prasarana transportasi dan komunikasi, dan adanya jaminan hukum atas penguasaan lahan untuk peternakan.

Dari segi modal, peran lembaga keuangan baik perbankan maupun lembaga keuangan non-bank diharapkan mendukung dalam upaya-upaya penguatan modal untuk pengembangan agribisnis peternakan. Selama ini ada indikasi bahwa pihak perbankan enggan menyalurkan kredit kepada usaha-usaha peternakan karena investasi di bidang peternakan dipandang cukup berisiko bila dibandingkan dengan jenis usaha lain. Penguatan modal sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan aset bagi peternak dan pengusaha peternakan. Kebijakan penguatan modal harus lebih berpihak, dengan skim-skim tertentu yang favorable bagi pengembangan bisnis peternakan. Apabila kita bandingkan dengan kebijakan penguatan modal yang terjadi di negara tetangga seperti Australia dan Thailand sangatlah kurang berpihak pada pelaku bisnis peternakan di Indonesia. Di Australia, untuk usaha peternakan sapi potong pemerintah memberikan alokasi kredit cukup besar dengan tingkat suku bunga kurang dari 8% per tahun dan lama kredit antara 15-20 tahun. Kebijakan ini sangat membantu peternak sapi potong di Australia untuk memiliki aset yang cukup sehingga akhirnya berdaya saing tinggi. Demikian pula pengembangan ternak (sapi perah) di Thailand, kebijakan pemerintah dalam penguatan modal sangat menguntungkan peternak. Kalau kita bandingkan dengan kondisi di Indonesia, kebijakan penguatan modal masih belum memihak, karena sebagai contoh kredit ketahanan pangan, jangka waktu pengembalian kredit maksimal 3 tahun dengan tingkat suku bunga komersial (>12% per tahun). Kondisi demikian ini tidak memungkinkan petani-peternak memiliki aset yang cukup, sehingga daya saingnya tentu sangat rendah.

Upaya mendorong SDM menuju ke arah entrepreneur (agropreneur) baik yang masih berpendidikan rendah maupun yang telah berpendidikan tinggi (D3, S1) khususnya para Sarjana Peternakan untuk meniti karier di dunia bisnis peternakan-pertanian perlu terus dilakukan dan dalam hal ini Perguruan Tinggi mempunyai peran yang signifikan. Pendidikan Tinggi Peternakan perlu membekali lulusannya dengan knowledge, skill, ability dan attitude yang cukup di samping entrepreneurships maupun leaderships.

Di samping melalui jalur pendidikan untuk menghasilkan lulusan dan SDM yang qualified dan berjiwa entrepreneur, satu hal yang harus dilakukan terutama oleh pemerintah adalah perlunya pemberian “insentif” bagi pelaku usaha yang bersedia membangun usaha di kawasan lahan kering. Insentif dapat diterapkan misalnya dengan penerapan keringanan pajak, kemudahan-kemudahan dalam pengurusan usaha, perlindungan hukum dan pembangunan sarana-prasarana yang menunjang usaha. Penerapan insentif ini akan dapat mendorong SDM yang berkualitas dan berdedikasi untuk tetap bersedia tinggal dan hidup membangun daerah lahan kering dan secara tidak langsung akan mengurangi arus urbanisasi.

Usaha pengembangan ternak tidak hanya perlu modal, bibit unggul, pasar dan sarana prasarana akan tetapi sangat membutuhkan SDM yang tangguh dan andal, bermotivasi tinggi, trampil dalam mengelola usaha, tanggap terhadap permintaan pasar, dan responsif terhadap teknologi baru. Inilah tantangan riil para Sarjana Peternakan Indonesia untuk dapat mengoptimalkan lahan marginal yang masih undertulized melalui pengembangan usaha peternakan sehingga masalah kemiskinan dan gizi buruk perlahan tapi pasti akan dapat diatasi.

Oleh:
Dr Ir Ali Agus DAA, DEA,
Dosen Fakultas Peternakan UGM,
Ketua ISPI Cabang DIY, Ketua Panitia Kongres IX ISPI 2006

 

KEBUTUHAN VITAMIN PADA AYAM PETELUR

Tujuan utama dari semua usaha peternakan ayam petelur adalah untuk mendapatkan produksi yang optimal, pemakaian pakan yang efisien dan ayam petelur yang sehat. Nutrisi seperti protein, lemak, karbohidrat, mineral, air dan vitamin adalah essensial bagi fungsi-fungsi vital ayam petelur. Namun vitamin mempunyai perannya sendiri, dimana dibutuhkan jumlah vitamin yang cukup agar penyerapan semua nutrisi tadi dalam pakan dapat efisien. Oleh sebab itu, nutrisi yang optimal dapat terbentuk hanya jika unggas diberikan pakan dengan kandungan mikro dan makro nutrisi yang tepat untuk pertumbuhan, kesehatan, proses reproduksi dan ketahanan hidupnya.

Vitamin adalah substansi aktif dan sangat dibutuhkan oleh manusia maupun hewan. Tergolong dalam mikronutrisi dan sangat dibutuhkan bagi metabolisme normal pada hewan. Vitamin juga sangat dibutuhkan untuk mencapai kesehatan yang optimal, sama halnya dengan fungsi fisiologis normal seperti tumbuh, berkembang, mempertahankan hidup dan bereproduksi. Kebanyakan vitamin tidak bisa dibentuk secara alamiah oleh ayam (unggas) dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan fisiologisnya. Sehingga vitamin ini harus tersedia dalam pakannya. Vitamin terkandung pada banyak bahan penyusun pakan dalam jumlah yang sedikit. Apabila terjadi kekurangan vitamin pada pakan, akibat tidak sempurnanya proses penyerapan, maka dapat mengakibatkan munculnya penyakit ataupun sindroma kekurangan vitamin.

Secara umum vitamin dibagi menjadi dua golongan berdasarkan kelarutannya dalam lemak dan dalam air. Vitamin yang mudah larut dalam lemak terdiri dari vitamin A, D, E dan K. Sementara vitamin B komplek (B1, B2, B6, B12, Niacin, Asam pantotenat, Asam folat dan Biotin) dan vitamin C digolongkan dalam vitamin yang mudah larut dalam air.

Saat ini semua industri pakan sudah memahami bahwa jumlah minimum vitamin dalam pakan amat dibutuhkan. Hal ini untuk menghindari gejala klinis yang timbul akibat defisiensi vitamin yang mengakibatkan kesehatan serta produksi menjadi tidak optimal. Yang menjadi pertimbangan adalah bahwa produktifitas dari peternakan pasti terus berkembang, bisa melalui peningkatan kemampuan genetis, modifikasi nutrisi, modifikasi manajemen serta pengembangan sistem pemeliharaan. Hal ini pastinya akan meningkatkan kebutuhan akan vitamin. Selanjutnya, produksi unggas yang intensif akan meningkatkan metabolisme, gangguan lingkungan dan cekaman penyakit yang pada akhirnya akan menyebabkan tidak optimalnya performans serta tingginya kemungkinan terjadi difisiensi (kekurangan) vitamin. Kontaminasi jamur (mikotoksin) pada pakan dan zat yang berlawanan dengan vitamin, juga dapat membatasi dan bahkan menghambat kerja beberapa vitamin.

Faktor-faktor tadi, mulai dari latar belakang genetis unggas, status kesehatan akibat program pemeliharaan dan komposisi bahan baku pakan, dapat membedakan kebutuhan masing-masing vitamin. Asupan dan ketersediaan vitamin dari sumber alam sangat tidak bisa diperkirakan. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan kandungan vitamin dalam bahan baku pakan (tergantung pada iklim saat ditanam, penentuan waktu panen dan proses penyimpanan bahan baku). Jadi akan lebih baik untuk mempertahankan kebutuhan vitamin ayam, melalui pemberian vitamin tambahan.

Agar unggas dapat memberikan hasil yang sesuai dengan potensi genetisnya, nutrisinya dan terutama ketersediaan vitamin harus optimal. Vitamin B dibutuhkan agar penyerapan nutrisi menjadi efisien. Bersama dengan vitamin A, vitamin B sangat penting untuk membantu ayam dalam aktivitas metabolismenya dan untuk mempertahankan serta meningkatkan kemampuan bertelur. Vitamin C dan E sama-sama dapat meningkatkan ketahanan ayam terhadap stress dan membantu mempertahankan kesehatan ayam.
Sementara itu, keuntungan spesifik yang berhubungan dengan kualitas telur yang superior dapat dicapai, jika vitamin E diberikan dalam jumlah optimal pada pakan ayam yang sedang bertelur. Akhirnya, vitamin D dibutuhkan untuk membantu proses pembentukan tulang dan kerabang serta untuk menghindari masalah kelumpuhan.

Tingkat optimum penambahan vitamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Manajemen Beternak Itik

 

Semua diantara kita tentu tahu ternak Itik. Sang unggas petelur yang menghasilkan telur dengan keistimewaan tersendiri. Mampu Berproduksi di Lahan Luas ataupun Sempit. Itik terkenal sebagai unggas petelur yang sangat produktif. Umumnya ada dua pilihan dalam membudidayakannya, yaitu system tradisional (gembalaan) dan system intensif (dikandangkan). Sepintas itik gembalaan terlihat menguntungkan, karena pemeliharaannya tidak membutuhan pakan tambahan. Namun sebenarnya produktivitas itik gembalaan tidak maksimal.

Menurut sumber dari peternakandody.blogspot.com, Produksi telur itik gembalaan paling tinggi hanya 50%, sedangkan produksi telur itik dengan system intensif bisa mencapai 80% dan ini berlangsung sepanjang tahun. Karena produksinya maksimal, keuntungan yang diperoleh pun lebih tinggi dibandingkan dengan itik gembalaan.Selain itu, beternak itik secara intensif lebih banyak menghemat air. Pasalnya, air yang diperlukan sebatas untuk minum. Karena itu, usaha ini sangat cocok untuk usaha keluarga. Hanya dengan halaman seluas 5 x 10 m dapat menampung sekitar 200 ekor itik. Modal yang diperlukan pun tidak terlalu besar, terutama jika bibit awal dihasilkan sendiri.

Jadi walaupun biaya pakan yang dikeluarkan cukup banyak, itik juga memberi imbalan setimpal berupa telur setiap hari.Selain itu, itik petelur yang diternak secara intensif tidak membutuhkan pejantan, karena yang dihasilkan itik adalah telur konsumsi, bukan telur tetasan. Namun jika ingin menghasilkan telur tetas untuk bibit, itik harus diberi pejantan dan dilepas ke air agar bisa kawin.Berikut ini beberapa keuntungan lainnya :

1. peternakan dapat dilakukan dimana saja
2. produksi telur lebih tinggi
3. produksi telur lebih stabil karena tidak tergantung musim atau cuaca.
4. masa rontok bulu dapat dipersingkat dan berlangsung serentak
5. pengelolaan dan pengendalian penyakit lebih muda
6. biaya pemeliharaan lebih murah

Banyak jenis itik yang bisa diternakkan, akan tetapi, Paling Banyak Disukai adalah Itik Jawa. Di Indonesia beternak itik telah berlangsung sejak berabad-abad lalu berbarengan dengan masuknya agama Hindu dan Budha. Diduga itik berasal dari India dan masuk ke Jawa saat kejayaan Wngsa Syailendra. Selanjutnya itik-itik tersebut berkembang dan melahirkan kelompok-kelompok itik lokal seperti itik tegal, itik mojosari, dan itik magelang. Ketiganya lazim disebut dengan itik Jawa. Jenis ititk jawa bermacammacam, ada yang disebut itik branjangan, itik lemahan, itik jarakan, itik putihan, itik blorong, itik jalen, itik irengan, itik jawi, itik bosokan, itik gambiran, dan itik kalung. Berikut ini adalah keistimewaan dari masing-masing itik :
1. Branjangan memiliki bulu coklat muda, dihiasi dengan lurik hitam seperti burung branjangan. Sangat disukai peternak karena kemampuan bertelurnya stabil, rata-rata 200 butir pertahun.
2. Lemahan berbulu cokelat muda sampai abu-abu, lurik cokelat. Bertelur 200 butir pertahun.
3. Jarakan, berbulu merah tua atau cokelat muda, lurik berwarna hitam kecoklatan. Bertelur 200 butir pertahun.
4. Putihan, berbulu putih mulus. Paruh dan kakinya kuning jingga. Bertelur 150 butir pertahun.

Faktor-faktor yang Menentukan Kelayakan Kandang
Kandang untuk pemeliharaan itik harus nyaman dan aman, abik itu untuk ternak maupun peternaknya. Lokasi KandangLokasi kandang yang ideal untuk bididayaitik adalah jauh dari kebisingan, berdrainase baik, mudah transportasinya, dan mudah mendapatkan air bersih.Selain itu, dalam pemeliharaan itik diperlukan sarana dan prasarana pendukung agar itik mampu berproduksi tingg, mudah pengelolaannya, dan mudah dikontrol kesehatannya. Pasalnya, perkandangan adalah sarana utama dalam budidaya secara intensif. Itik yang bisa beristirahat dengan tenang, produktivitasnya akan lebih tinggi dibandingkan dengan itik yang berada di keramaian.Berikut ini aneka tip yang bisa dilakukan agar itik merasa nyaman dalam kandang :

1. buatlah bentuk atap yang mampu menahan tampias air hujan dan terik matahari.
2. bangunan kandang sebaiknya membujur dari timur ke barat.
3. model atap kandang dibuat sedemikian rupa sehingga mampu mengurangi timbulnya bau dan panas agar itik terhindar dari serangan penyakit.
4. luas kandang cukup memadai untuk peternakan.
5. tempat minum diletakan agak ke dalam, sehngga itik dapat mencelupkan kepalanya sewaktu-waktu.
6. bahan baku berupa genteng, asbes, plastik atau rumbia (paling disukai).
7. tinggi atap kandang 2,5-3 m dari lantai, agar peternak mudah mengontrol itik.

Ukuran Kandang.
Kandang disesuaikan dengan jumlah itik yang akan dipelihara dan lahan yang tersedia. Satu ekor itik dewasa, cukup diberi tempat 0,25 m2 , atau seukuran 50 x 50 cm. Berarti membudidayakan 60 ekor itik, perlu disediakan lahan seluas 3 x 5 m atau 15 m2 . Jumlah ini berdasarkan angka luas tanah dalam meter dikalikan empat. Rumusnya, panjang tanah (m) x lebar (m) x 4 ekor itik = jumlah ekor itik yang bisa dipelihara. Bila ukuran kandang yang dibutuhkan cukup luas, perlu diberi sekat yang terbuat dari bambu atau kayu setinggi 50-60 cm. Penyekatan dimaksudkan untuk mempermudah kontrol pakan dan kesehatan serta membatasi ruang gerak itik. Paslanya energi yang dihimpun dari pakan semaksimal mungkin dimanfaatkan untuk memproduksi telur.Untuk menjamin lancarnya sirkulasi udara, diantara ruang pelataran dan istrirahat dbuat terbuka. Hal ini penting, karena dalam ruangan tertutup, gas yang timbul akibat timbunan kotoran ikut seperti NO2 , SO2 , CO, CO2 , dan H2S dapat mengganggu kesehatan itik.Sementara itu, alas lantai bisa terbuat dari campuran jerami, sekam, serbuk gergaji, atau rumput kering. Untuk mempertahankan kondisi kandang, sebaiknya tanah dikapuri sebelum diberi alas. Tujuannya untuk mencegah penyakit dan mengurangi bau kotoran itik. Dengan cara ini, kandang bisa dibersihkan total setelah dua tahun dipakai. Cara lain untuk mengantisipasi penyakit adalah dengan menyemprotkan larutan formalin 5% ke tanah.

Konstruksi Bangunan dan Lantai Kandang.

Beberapa perlengkapan kandang yang diperlukan :
• tempat air minum
• tempat pakan
• alat pemanas DOD sampai umur 2 minggu
• alat kebersihan

Karena itik mempunyai kebiasaan makan sambil minum dan menciprat-cipratkan air, sebaiknya tempat makan dan minum dipisah agar pakan tidak tergenang air. Lubang tempat air minum dibuat pas dengan kepala itik dan diletakkan agak tinggi.Bentuk kandang yang paling banyak digunakan adalah kandang ren. Kandang ren merupakan kandang yang sebagian ruangannya tertutup atap dan sebagian lagi dibiarkan terbuka, kemudian dibatasi dengan pagar keliling. Ruang tertutup berfungsi sebagai tempat istirahat dan bertelur itik, sedangkan ruang yang terbuka berguna untuk tempat bermain.

• Lantai Litter
Kandang sistem litter cocok diterapkan di lingkungan yang berpasir, tanah yang mudah menyerap aiar atau bangunan kendang yang langsung beralaskan tanah. Keuntungan menggunakan lantai litter adalah biaya kandang bisa lebih dihemat. Liiter harus selalu kering.
• Lantai Slat
Lantainya berbentuk panggung, terbuat dari papan, belahan bambu, atau kawat kasa. Dengan begitu, kotoran bisa langsung jatuh ke tanah, sehingga lantai tetap terjaga kebersihannya. Kelemahannya adalah biaya yang dibutuhkan cukup besar.
• Lantai Umbaran
Disebut juga playangan (tempat bermain) bisa berupa tanah biasa, beralas semen, hamparan pasir atau batu-batu. Fungsinya sebagai tempat umbaran atau pengganti padang gembalaan.

Sistem Basah atau Kering
masih menurut peternakandody.blogspot.com, Pada dasarnya ada dua cara yang bisa digunakan dalam beternak itik secara intensif yaitu sistem basah dan sistem kering. Sistem basah merupakan pembudidayaan yang menyediakan cukup air di dalam kandang untuk aktivitas itik, seperti untuk berenang, mandi, minum dan membantu proses perkawinan. Sistem basah cocok untuk beternak dengan tujuan menghasilkan telur tetas. Namun jarak antara ruang istirahat dan kolam di ruang terbuka jangan terlalu sempit. Minimum berjarak 2-3 m. Tujuannya agar lantai litter tidak cepat basah, karena itik yang bermain-main di kolam sering keluar masuk kandang.Sistem kering adalah pembudidayaan yang menyediakan air di dalam kandang hanya untuk minum atau sekedar cuci muka itik. Dengan sistem kering, itik dapat berproduksi secara optimal karena energi yang diperoleh dari ransum sepenuhnya untuk memproduksi telur. Sistem ini hanya untuk memproduksi telur.

Sistem ini hanya cocok untuk menghasilkan telur konsumsi. Perwatan KandangUntuk mencegah timbulnya penyakit dan mengurangi bau tak sedap, sebaiknya kandang dibersihkan setiap hari. Karena itu, lantai kandang yang terbuat dari semen hendaknya dibuat agak miring, tujuannnya untuk mempermudah sewaktu kandang dibersihkan. Selain itu, lantai litter tempat itik tidur atau bertelur harus diaduk atau dibalik-balik minimum seminggu sekali.Jika menggunakan sistem basah, sebaiknya menggunakan air yang mengalir.Binatang liar dan orang yang tidak berkepentingan tidak dperkenankan masuk.

http://duniaveteriner.com/2009/07/manajemen-beternak-itik/print

 

PEMANFAATAN AMPAS TAHU PADA UNGGAS

1 12 2009

Oleh : Misnadi (E1C006025)

Abstak

Ransum merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi. Biaya yang dikeluarkan untuk pemberian ransum adalah 70% dari total biaya produksi (Listiyowati dan Roospitasari, 1992) Usaha untuk menekan biaya makanan adalah mencari bahan makanan yang tidak bersaing dengan manusia, harganya murah, memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, tersedia secara kontinyu, disukai ternak serta tidak membahayakan bagi ternak yang memakannya (Sulistiowati (1995) Ampas tahu adalah salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan penyusun ransum Dalam pemanfaatan bahan pakan yang belum umum digunakan, harus memperhatikan beberapa hal, seperti: jumlah ketersediaan, kandungan zat gizi sehingga perlu diolah sebelum digunkan sebagai pakan ternak, yaitu dengan tekhnologi fermentasi. pemberian ransum yang mengandung tepung ampas tahu 30% dengan kandungan serat kasar ransum 87% masih menghasilkan pertambahan bobot badan yang tidak berbeda denganransum kontrol.

Kata kunci: Ampas Tahu, Pakan Unggas, Terfermentasi

 PENDAHULUAN

Ransum merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi. Biaya yang dikeluarkan untuk pemberian ransum adalah 70% dari total biaya produksi (Listiyowati dan Roospitasari, 1992). Tingginya biaya produksi ini perlu ditanggulangi dengan menyusun ransum sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat, dengan harga yang relatif lebih murah, tetapi masih mempunyai kandungan gizi yang baik untuk produksi dan kesehatan ternak itu sendiri (Mairizal, 1991).

Usaha untuk menekan biaya makanan adalah mencari bahan makanan yang tidak bersaing dengan manusia, harganya murah, memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, tersedia secara kontinyu, disukai ternak serta tidak membahayakan bagi ternak yang memakannya (Sulistiowati (1995)

Ampas tahu adalah salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan penyusun ransum. Sarnpai saat ini ampas tahu cukup mudah didapat dengan harga murah, bahkan bisa didapat dengan cara cuma-cuma. Ditinjau  dari  komposisi  kimianya  ampas  tahu  dapat  digunakan sebagai sumber protein. Mengingat kandungan protein dan lemak pada ampas tahu yang tinggi yaitu protein 8,66%; lemak 3,79%; air 51,63% dan abu 1,21%, maka sangat memungkinkan ampas tahu dapat diolah menjadi bahan makanan ternak.

Potensi Ampas Tahu Sebagai Bahan Makanan Ternak

Ampas tahu merupakan limbah dalam bentuk padatan dari bubur kedelai yang diperas dan tidak berguna lagi dalam pembuatan tahu dan cukup potensial dipakai sebagai bahan makanan ternak karen ampas tahu masih mengandung gizi yang baik dan dapat digunakan sebagai ransum ternak besar dan kecil. Penggunaan ampas tahu masih sangat terbatas bahkan seririg sekali menjadi limbah yang tidak termanfaatkan sama sekali  (Wiriano 1985)

Ampas tahu dalam keadaan segar berkadar air sekitar 84,5% dari bobotnya. Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan umur simpannya pendek. Ampas tahu kering mengandung air sekitar 10,0-15,5%, sehingga umur simpannya lebih lama dibandingkan dengan ampas tahu segar (Widyatmoko,1996). Ampas tahu basah akan segera menjadi asam dan busuk dalam 2-3 hari sehingga tidak disukai oleh ternak. Masalah itu dapat ditanggulangi dengan cara menjemur dibawah panas matahari atau dimasukkan dalam oven.

Peningkatan nilai gizi pada ampas tahu

Produk sampingan pabrik tahu ini apabila telah mengalami fermentasi dapat meningkatkan kualitas pakan dan memacu pertumbuhan ayam pedaging. telah digunakan sebagai pakan babi, sapi bahkan ayam pedaging.

Namun karena kandungan air dan serat kasarnya yang tinggi, maka penggunaannya menjadi terbatas dan belum memberikan hasil yang baik. Guna mengatasi tingginya kadar air dan serat kasar pada ampas tahu maka dilakukan fermentasi.

Proses fermentasi dengan menggunakan ragi yang mengandung kapang Rhizopus Oligosporus dan R Oryzae. Proses fermentasi akan menyederhanakan partikel bahan pakan, sehingga akan meningkatkan nilai gizinya. Bahan pakan yang telah mengalami fermentasi akan lebih baik kualitasnya dari bahan bakunya. Fermentasi ampas tahu dengan ragi akan mengubah protein menjadi asam-asam amino, dan secara tidak langsung akan menurunkan kadar serat kasar ampas tahu. Analisis proksimat ampas tahu mempunyai kandungan nutrisi cukup baik sebagai bahan ransum sumber protein. Ampas tahu mengandung protein kasar 21,29%, lemak 9,96%, SK 19,94% (Syaiful, 2002) kalsium 0,61%, phospor 0,35%, lisin 0,80%, methionin 1,33% (Lab. IPB, 1995).

Aman Untuk Unggas

Menurut L. D. Mahfudz, E. Suprijatna dan W. Sarengat melakukan riset untuk mangkaji ampas tahu fermentasi sebagai bahan pakan serta menganalisa pengaruhnya sebagai bahan penyusun ransum ayam pedaging strain Arbor Acres umur 1 minggu “unsex” dengan berat badan rata-rata 120,08±15,58 g. Ampas tahu sebelum dipakai sebagai bahan penyusun ransum difermentasi dengan ragi yang mengandung kapang Rhyzopus Oligosporus dan R. Oryzae. Ransum disusun dengan kandungan protein dan energi yang sama (iso protein dan iso energi). Ransum periode awal mengandung protein 22% dan energi metabolis 2.900 kkal/kg, sedang ransum periode akhir mengandung protein 20% dan energi metabolis 3.000 kkal/kg. secara nyata memperlihatkan adanya peningkatan konsumsi pakan, pertambahan berat badan, berat badan akhir dan berat karkas, seiring dengan meningkatnya level ampas tahu dalam pakan. Namun persentase karkas secara nyata tidak berbeda, sedangkan konversi pakan secara nyata lebih baik dengan pemberian ampas tahu fermentasi.

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Tanwiriah.W, Garnida D, Asmara.I.Y, pemberian ransum yang mengandung tepung ampas tahu 30% dengan kandungan serat kasar ransum 87% masih menghasilkan pertambahan bobot badan yang tidak berbeda denganransum kontrol. Hal ini membuktikan bahwa entok bisa mentolerir kandungan serat kasarransum yang lebih tinggi dari 8%. Begitupun konversi ransum, pemberian ransum yang mengandung tepung ampas tahu tidak berbeda, karenakonsumsi ransum tidak berbeda demikian juga dengan pertambahan bobot badan. Selainitu konversi yang sama memperlihatkan bahwa semua ransum mempunyai tingkat efisiensiyang sama, meskipun mempunyai kandungan serat kasar yang berbeda.

Kesimpulan

Tekhnologi fermentasi dapat merubah komposisi kimia ampas tahu menjadi bernilai gizi lebih baik, fermentasi ampas tahu dengan ragi akan mengubah protein menjadi asam-asam amino, dan secara tidak langsung akan menurunkan kadar serat kasar ampas tahu.

Pemberian ransum yang mengandung tepung ampas tahu 30% menghasilkan pertambahan bobot badan yang tidak berbeda dengan ransum kontrol, begitupun pada konversi ransum.

Dengan demikian pemberian ampas tahu dengan batasan tertentu memberikan dapak yang positif terhadap unggas.

Daftar pustaka

Amrullah, A. K. 2003. Nutrisi unggas. Lembaga Satu Gunung budi, Bogor.

Anggorodi, 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. U-I Press. Jakarta.

Anggorodi, 1995. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Mairizal, 1991. Penggunaan ampas tahu dalam ransum unggas. Poultry Indonesia, No. 133.

Rasyaf, M. 1987. Memelihara Burung Puyuh. Penerbit. Kanisius, Yogyakarta.

 

Sumber Bahan Makanan Ternak

Berdasarkan kandungan serat kasarnya bahan makanan ternak dapat dibagi kedalam dua golongan yaitu bahan pangan penguat (konsentrat) dan hijauan. Konsentrat dapat berasal dari bahan pangan atau dari tanaman serealia (misalnya jagung, padi atau gandum), kacang-kacangan (misalnya kacang hijau atau kedelai), umbi-umbian (misalnya umbi kayu atau ubi jalar) dan buah-buahan (misalnya kelapa atau kelapa sawit). Konsentrat juga berasal dari hewan seperti tepung daging dan tepung ikan. Disamping itu juga dapat berasal dari industry kimia seperti protein sel tunggal, limbah atau hasil ikutan dari produksi bahan pangan seperti dedak padi dan pollard, hasil proses ekstraksi seperti bungkil kelapa dan bungkil kedelai, limbah pemotongan hewan seperti tepung darah dan tepung bulu, dan limbah proses fermentasi seperti ampas bir,

Hijauan dapat berupa rumput-rumputan dan leguminosa segar atau kering serta silase yang dapat berupa jerami yang berasal dari limbah pangan (jerami padi, jerami kedelai, pucuk tebu) atau yang berasal dari pohon-pohonan (daun gamal dan daun lamtoro).

Klasifikasi berdasarkan kandungan gizinya bahan makanan ternak dapat dibagi atas sumber energy (misalnya dedak, ubi kayu), sumber protein yang berasal dari tanaman (misalnya bungkil kedelai dan bungkil kelapa) dan sumber protein hewani (tepung darah,tepung bulu dan tepung ikan). Selain sumber protein dan sumber energy, beberapa bahan makanan dapat digolongkan sebagai sumber mineral (misalnya tepung tulang, kapur dan garam), serta sumber vitamin (misalnya ragi dan minyak ikan). Beberapa bahan antibiotika, preparat hormone, preparat enzim, dan buffer dapat digunakan untuk meningkatkan daya guna ransum. Bahan-bahan tersebut digolongkan dalam pakan imbuhan (feed aditif).

Pengelompokan yang lain adalah berdasarkan penggunaanya. Pakan berdasarkan penggunaannya dibagi atas bahan makanan konvensional (seperti bungkil kedelai dan dedak) dan nonkonvensional (seperti ampas nenas dan isi rumen).

Komposisi kimia bahan makanan ternak sangat beragam karena tergantung pada varietas, kondisi tanah, pupuk, iklim, cara pengolahan, lama penyimpanan dan lain-lain. Berdasarkan penelitian, beberapa padi yang berasal dari beberapa pola tanam yang berbeda digiling disuatu penggilingan yang sama maka keragaman dedak padi dari beberapa pola tanam tersebut tidak banyak berbeda tersebut tidak terlalu berbeda komposisinya. Sedangkan bila padi dari beberapa pola tanam yang sama digiling dibeberapa pengilingan, maka komposisi dedak padi tersebut akan beragam. Dari hal ini cara pengolahan lebih menyebabkan keanekaragaman komposisi dedak padi dibandingkan dengan pola tanam.

Umumnya bahan makanan ternak yang berasal dari limbah pertanian/industry tidak dapat digunakan sebagai bahan satu-satunya (pakan tunggal) dalam ransum baik untuk hewan ruminansia maupun nonruminansia, oleh karena kandungan zat-zat makanannya tidak dapat memenuhi standart kebutuhan ternak. Disamping itu, bahan-bahan makanana tersebut sering mempunyai kendala-kendala baik berupa racun atau antinutrisi sehingga penggunaanya pada ternak perlu dibatasi.

Istilah-istilah Dalam Ilmu Makanan Ternak

Beberapa istilah yang sering dijumpai dalam pengetahuan bahan makanan ternak diantaranya :

  • Ampas : residu limbah industry pangan yang telah diambil sarinya melalui proses pengolahan secara basah (ampas kelapa, ampas kecap, ampas tahu, ampas bir, ampas ubi kayu/onggok).
  • Abu/ ash/ mineral : sisa pembakaran pakan dalam tungku/tanur 500-6000C sehingga semua bahan organic terbakar habis.
  • Analisis proksimat (proximate analisis) : analisa kimiawi pada pakan/bahan yang berlandaskan cara Weende yang menghasilkan air, abu, protein kasar, lemak dan serat kasar dalam satuan persen.
  • Analisa Van Soest : metoda analisa berdasarkan kelarutannya dalam larutan detergen asam dan detergen netral.
  • BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen) / NFE (Nitrogen Fiber Extract) : karbohidrat bukan serat kasar. Dihitung sebagai selisih kandungan karbohidrat dengan serat kasar. Merupakan tolak ukur secara kasar kandungan karbohidrat pada suatu pakan/ransum.
  • Bahan kering (DryMatter) : pakan bebas air. Dihitung dengan cara 100-kadar air, dimana kadar air diukur merupakan persesn bobot yang hilang setelah pemanasan pada suhu 1050C sampai beratnya tetap.
  • Bahan makanan ternak/pakan (feeds, feedstuff) : semua bahan yang dapat dimakan ternak.
  • Bahan organic (organic matter) : selisih bahan kering dan abu yang secara kasar merupakan kandungan karbohidrat, lemak dan protein.
  • Bahan organic tanpa nitrogen (BOTN)/non nitrogenous organic matter : selisih bahan organic dengan protein kasar yang merupakan gambaran kasar kandungan karbohidrat dan lemak atau suatu bahan/pakan.
  • Dedak (bran) : limbah industry penggilingan bijian yang terdiri dari kulit luar dan sebagian endosperm seperti dedak padi, dedak gandum (pollard), serta dedak jagung.
  • Energy bruto/ Gross energy (GE) : jumlah kalori (panas) hasil pembakaran pakan dalam bom calorimeter.
  • Fodder : hijauan dari kelompok rumput bertekstur kasar seperti jagung dan sorghum beserta bijinya yang dikeringkan untuk pakan.
  • Hijauan makanan ternak (forage) : pakan yang berasal dari bagian vegetatif tumbuhan dengan kadar serat kasar >18% dan mengandung energy tinggi.
  • Hijauan kering ( Hay) : hijauan makanan ternak (HMT) yang dikeringkan dengan kadar air biasanya <10%.
  • Jerami (straw) : hijauan limbah pertanian setelah biji dipanen dengan kadar serat kasar umumnya tinggi, bisa berasal dari gramineae maupun leguminosa.
  • Karbohidrat : senyawa C,H dan O bukan lemak. Merupakan selisih BOTN dan lemak.
  • Bungkil : bahan limbah industry minyak seperti bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, bungkil kedelai, dll.
  • Lemak kasar (ether extract) : semua senyawa pakan/ransum yang dapat larut dalam pelarut organic.
  • Lignin : bagian serat detergen asam yang tidak larut dalam H2SO4 72% dan terbakat habis pada tanur 500-6000C pada metoda analisis Van Soest.
  • Pakan imbuhan/feed additive : zat yang ditambahkan dalam ransum dalam ransum untuk memperbaiki daya guna ransum yang bersifat bukan zat makanan.
  • Protein kasar (PK)/ crude protein : kandungan nitrogen pakan/ransum dikalikan factor protein rata-rata (6,25) karena rata-rata nitrogen dalam protein adalah 16%, sehingga factor perkalian protein 100/16 = 6,25. Terdiri dari asam-asam amino yang saling berikatan (ikatan peptide), amida, amina dan semua bahan organic yang mengandung Nitrogen.

 

BIOGAS

PEMANFAATAN KOTORAN TERNAK SAPI

SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF RAMAH LINGKUNGAN BESERTA ASPEK SOSIO KULTURALNYA*)

Oleh: Sugi Rahayu**), Dyah Purwaningsih***), Pujianto****)

Pendahuluan

Kelangkaan bahan bakar minyak, yang salah satunya disebabkan oleh kenaikan harga minyak dunia yang signifikan, telah mendorong pemerintah untuk mengajak masyarakat mengatasi masalah energi secara bersama-sama (Kompas, 2008). Makin tingginya harga bahan bakar, terutama gas dan bahan bakar minyak untuk kebutuhan rumah tangga makin  meresahkan masyarakat. Selain mahal, bahan bakar tersebut juga  makin langka di pasaran. Usaha untuk mengatasi hal-hal yang demikian ini mendorong pemikiran akan  perlunya pencarian sumber-sumber energi alternatif agar kebutuhan bahan bakar dapat dipenuhi tanpa merusak lingkungan.

Indonesia sebagai negara agraris yang beriklim tropis memiliki sumber daya pertanian dan peternakan yang cukup besar. Sumber daya tersebut, selain digunakan untuk kebutuhan pangan juga dapat berpotensi sebagai sumber energi dengan cara pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas.

Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi naiknya harga pupuk dan kelangkaan bahan bakar minyak. Apalagi pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber bahan bakar dalam bentuk biogas. Teknologi dan produk tersebut merupakan hal baru bagi masyarakat petani dan peternak kita. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber energi, tidak mengurangi jumlah pupuk organik yang bersumber dari kotoran ternak. Hal ini karena pada pembuatan biogas kotoran ternak yang sudah diproses dikembalikan ke kondisi semula yang diambil hanya gas metana (CH4) yang digunakan sebagai bahan bakar. Kotoran ternak yang sudah diproses pada pembuatan biogas dipindahkan ke tempat lebih kering, dan bila sudah kering dapat disimpan dalam karung untuk penggunaan selanjutnya.

Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah Desa Jatisarono sedang melakukan studi kelayakan dengan  menunjuk seorang peternak yang mempunyai ternak sapi sejumlah sekitar 20 ekor sapi agar memanfaatkan limbah kotoran sapinya untuk dapat menghasilkan biogas sebagai sumber energi alternatif. Untuk itu, perlu diketahui jumlah energi yang dihasilkan dari biogas yang dihasilkan dari kotoran sapi tersebut. Dengan diketahuinya jumlah energi yang dihasilkan, maka akan diketahui berapa jumlah keluarga yang dapat memanfaatkan biogas yang dihasilkan dari kotoran sapi.

Selain itu, dari aspek sosio-kultural penerapan teknologi baru kepada masyarakat merupakan suatu tantangan tersendiri akibat rendahnya latar belakang pendidikan, pengetahuan dan wawasan yang mereka miliki. Begitu juga dengan penerapan teknologi biogas. Tidak pernah terbayangkan bahwa kotoran sapi dapat menghasilkan api. Selain itu juga perasaan jijik terhadap makanan yang dimasak menggunakan makanan yang dimasak menggunakan biogas. Untuk itu, program pengabdian ini dilakukan untuk mengetahui besar konversi energi yang dihasilkan dari biogas hasil kotoran sapi tersebut dan bagaimana mensosialisasikan produk biogas tersebut kepada masyarakat sehingga dapat dijadikan sebagai rintisan wirausaha baru. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah

  1. Memberi masukan kepada masyarakat tentang pemanfaatan residu biogas dari kotoran ternak bagi kepentingan masyarakat petani dan peternak
  2. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang aspek sosio-kultural penerapan teknologi biogas dalam rangka perintisan wirausaha baru
  3. Mengkaji prospek penerapan teknologi biogas di desa Jatisarono, kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo terkait dengan aspek community development untuk jangka yang lebih panjang

Sedangkan manfaat yang diharapkan dari kegiatan ini antara lain :

  1. Hasil dari kegiatan yang akan dilakukan diharapkan dapat menjadi rintisan kegiatan sistem pengelolaan limbah ternak yang berdaya guna.
  2. Biogas yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai sumber belajar (real teaching) bagi dunia pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan berbasis riset.
  3. Program yang dijalankan dapat dijadikan sebagai media penghubung antar keluarga dalam pengelolaan dan penyaluran biogas yang dihasilkan sehingga dapat terbentuk atmosfir sosio kultural yang harmonis dan berkesinambungan.
  4. Memotivasi masyarakat desa untuk merintis wirausaha baru di bidang pembuatan biogas
  5. Membuka peluang kerja bagi masyarakat petani dan peternak sapi sehingga memperkecil arus urbanisasi.
  6. Meningkatkan pendapatan masyarakat petani dan peternak sapi di daerah tersebut sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Kotoran Ternak

Pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber pupuk organik sangat mendukung usaha pertanian tanaman sayuran. Dari sekian banyak kotoran ternak yang terdapat di daerah sentra produksi ternak banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal, sebagian di antaranya terbuang begitu saja, sehingga sering merusak lingkungan yang akibatnya akan menghasilkan bau yang tidak sedap.

Tabel. 1 Kandungan unsur hara pada pupuk kandang yang berasal dari

beberapa ternak

Jenis ternak

Unsur hara (kg/ton)

 

N

P

K

Sapi perah

22,0

2,6

13,7

Sapi potong

26,2

4,5

13,0

Domba

50,6

6,7

39,7

Unggas

65,8

13,7

12,8

Sumber: http://www.disnak.jabarprov.go.id/data/arsip/

Satu ekor sapi dewasa dapat menghasilkan 23,59 kg kotoran tiap harinya. Pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak dapat menghasilkan beberapa unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman, seperti terlihat pada Tabel 1. Disamping menghasilkan unsur hara makro, pupuk kandang juga menghasilkan sejumlah unsur hara mikro, seperti Fe, Zn, Bo, Mn, Cu, dan Mo. Jadi dapat dikatakan bahwa, pupuk kandang ini dapat dianggap sebagai pupuk alternatif untuk mempertahankan produksi tanaman.

Biogas sebagai Sumber Energi Alternatif

Biogas adalah gas mudah terbakar   (flammable) yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara). (http://www.majarikanayakan.com/). Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya bahan organik (padat, cair) homogen seperti kotoran dan urine (air kencing) hewan ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Di samping itu juga sangat mungkin menyatukan saluran pembuangan di kamar mandi atau WC ke dalam system biogas. Di daerah yang banyak industri pemrosesan makanan antara lain tahu, tempe, ikan pindang atau brem bisa menyatukan saluran limbahnya ke dalam sistem biogas, sehingga limbah industri tersebut tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Hal ini memungkinkan karena limbah industri tersebut di atas berasal dari bahan organik yang homogen. Jenis bahan organik yang diproses sangat mempengaruhi produktivitas sistem biogas di samping parameter-parameter lain seperti temperatur digester, pH, tekanan, dan kelembaban udara.

Salah satu cara menentukan bahan organik yang sesuai untuk menjadi bahan masukan sistem biogas adalah dengan mengetahui perbandingan karbon (C) dan nitrogen (N) atau disebut rasio C/N. Beberapa percobaan yang telah dilakukan oleh ISAT menunjukkan bahwa aktivitas metabolisme dari bakteri methanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N sekitar 8-20 (http://www.petra.ac.id/science/applied _technology/biogas98/biogas.htm).

Bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kedap udara (disebut Digester) sehingga bakteri anaerob  akan   membusukkan  bahan  organik  tersebut yang   kemudian menghasilkan   gas (disebut biogas). Biogas yang telah  terkumpul di dalam digester   selanjutnya dialirkan  melalui pipa   penyalur gas menuju tabung penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya. Biogas  dapat  dipergunakan  dengan  cara  yang    sama  seperti  gas-gas mudah terbakar lainnya. Pembakaran biogas dilakukan melalui proses pencampuran dengan sebagian oksigen (O2). Nilai kalori dari 1 meter kubik biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu biogas   sangat cocok  digunakan  sebagai  bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti  minyak  tanah, LPG, butana, batubara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil.

Namun demikian, untuk  mendapatkan  hasil  pembakaran  yang  optimal, perlu  dilakukan  pra  kondisi sebelum biogas dibakar yaitu melalui proses pemurnian/penyaringan karena biogas   mengandung   beberapa  gas lain yang tidak  menguntungkan. Sebagai  salah   satu contoh, kandungan gas hidrogen sulfida yang tinggi yang terdapat  dalam biogas  jika dicampur  dengan oksigen dengan perbandingan 1:20, maka  akan menghasilkan gas yang sangat mudah meledak. Tetapi sejauh ini belum pernah dilaporkan terjadinya ledakan pada sistem biogas sederhana. Di samping itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman/budidaya pertanian.

Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry) merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose, lignin dan lain-lain tidak dapat digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk organik dari biogas telah dicobakan pada tanaman jagung, bawang merah dan padi.

Komposisi gas yang terdapat di dalam Biogas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Komposisi gas yang terdapat dalam biogas

Jenis Gas

Volume (%)

Metana (CH4) 40 – 70
Karbondioksida (CO2) 30 – 60
Hidrogen (H2) 0 – 1
Hidrogen Sulfida (H2S) 0 – 3

Sumber: . (http://www.energi.lipi.go.id)

Pelestarian Alam dengan Biogas.

Biogas memberikan solusi terhadap masalah penyediaan energi dengan murah dan tidak mencemari lingkungan. Berdasarkan hasil temuan mahasiswa KKN (1995) dan Penelitian Kecamatan Rawan di Magetan (1995) di desa Plangkrongan, rata-rata di setiap rumah terdapat 1-3 ekor sapi karena memelihara sapi merupakan pekerjaan kedua setelah bertani. Setiap harinya rata-rata seekor sapi menghasilkan kotoran sebanyak 30 kg. Jika terdapat 2.000 ekor lembu, maka setiap hari akan terkumpul 60 ton kotoran (http://www.kompascetak.com/kompas-cetak/0712/15/jogja/1045892.htm)

Kotoran yang menggunung akan terbawa oleh air masuk ke dalam tanah atau sungai yang kemudian mencemari air tanah dan air sungai. Kotoran lembu mengandung racun dan bakteri colly yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungannya.

Pembakaran bahan bakar fosil  menghasilkan  karbon dioksida (CO2) yang ikut  memberikan kontribusi bagi efek rumah kaca (green house effect) yang  bermuara pada   pemanasan global (global warming). Biogas memberikan perlawanan  terhadap efek  rumah  kaca melalui 3 cara. Pertama, Biogas memberikan substitusi atau pengganti dari bahan bakar fosil untuk penerangan, kelistrikan, memasak dan pemanasan. Kedua, metana (CH4) yang dihasilkan secara alami oleh kotoran yang menumpuk merupakan gas penyumbang terbesar pada efek rumah kaca, bahkan lebih besar dibandingkan CO2. Pembakaran metana pada Biogas mengubahnya menjadi CO2 sehingga mengurangi jumlah metana di udara. Ketiga, dengan lestarinya hutan, maka akan CO2 yang ada di udara akan diserap oleh hutan yang menghasilkan Oksigen yang melawan efek rumah kaca. (http://www.majarikanayakan.com/)

Rekayasa dan Pengujian Reaktor Biogas Skala Kelompok Tani Ternak.

Spesifikasi Teknis

Teknologi biogas telah berkembang sejak lama namun aplikasi penggunaannya sebagai sumber energi alternatif belum berkembang secara luas. Beberapa kendala antara lain karena kurangnya “technical expertise”, tidak berfungsinya reaktor biogas akibat kebocoran atau kesalahan konstruksi, desain reaktor yang tidak “user friendly”, penanganan masih manual, dan biaya konstruksi yang cukup mahal (http://www.energi.lipi.go.id). Untuk reaktor biogas skala kelompok tani ternak  reaktor di desain dengan kapasitas 18 m3 untuk menampung kotoran sapi sebanyak 10-12 ekor. Berdasarkan perhitungan desain, reaktor mampu menghasilkan biogas sebanyak 6m3/hari. Produksi gas metana dipengaruhi oleh C/N rasio input (kotoran ternak), residence time, pH, suhu dan toksisitas. Suhu digester berkisar 25-27 oC dan pH 7-7,8 menghasilkan biogas dengan kandungan metana (CH4) sekitar 77%.

Untuk membuat reaktor biogas skala rumah tangga diperlukan beberapa hal berikut:

  1. Volume reaktor (plastik) : 4000 liter
  2. Volume penampung gas (plastik) : 2500 liter
  3. Kompor biogas : 1 buah
  4. Drum pengaduk bahan : 1 buah
  5. Pengaman gas : 1 buah
  6. Selang saluran gas : ± 10 m
  7. Kebutuhan bahan baku : kotoran ternak dari 2-3 ekor sapi/kerbau
  8. Biogas yang dihasilkan : 4 m3 perhari (setara dengan 2,5 liter minyak tanah).

Adapun cara pengoperasian reaktor biogas skala rumah tangga:

  1. Buat campuran kotoran ternak dan air dengan perbandingan 1:1 (bahan biogas).
  2. Masukkan bahan biogas ke dalam reaktor melalui tempat pengisian sebanyak 2000 liter, selanjutnya akan berlangsung proses produksi biogas ke dalam reaktor.
  3. Setelah kurang lebih 10 hari reaktor gas dan penampung biogas akan terlihat mengembung dan mengeras karena adanya biogas yang dihasilkan. Biogas sudah dapat digunakan sebagai bahan bakar, kompor biogas dapat dioperasikan.
  4. Sekali-sekali reactor biogas digoyangkan supaya terjadi penguraian yang sempurna dan gas yang terbentuk di bagian bawah naik ke atas, lakukan juga pada setiap pengisian bahan bakar.
  5. Pengisian bahan biogas selanjutnya dapat dilakukan setiap hari, yaitu sebanyak ± 40 liter setiap pagi dan sore. Sisa pengolahan bahan biogas berupa sludge (lumpur) secara otomatis akan keluar dari reaktor setiap kali dilakukan pengisian bahan biogas. Sisa hasil pengolahan bahan biogas tersebut dapat digunakan langsung sebagai pupuk organik, baik dalam keadaan basah maupun kering.

Cara Pengoperasian Kompor Biogas

  1. Buka sedikit kran gas yang ada pada kompor.
  2. Nyalakan korek api dan sulut tepat di atas tungku kompor.
  3. Apabila menginginkan api yang lebih besar, kran gas dapat dibuka lebih besar lagi, demikian pula sebaliknya. Api dapat disetel sesuai dngan kebutuhan dan keinginan kita.

Pemeliharaan dan Perawatan Reaktor Biogas

  1. Hindarkan reaktor dari gangguan anak, tangan jahil ataupun dari ternak yang dapat merusak reaktor dengan cara memagar dan memberi atap supaya air tidak dapat masuk ke dalam galian reaktor.
  1. Isilah selalu pengaman gas dengan air sampai penuh. Jangan biarkan sampai kosong karena gas yang dihasilkan akan terbuang melalui pengaman gas.

Metode Pelaksanaan PPM

Sasaran penyuluhan dan pemberian pelatihan keterampilan ini  adalah para peternak sapi di desa Jatisarono, Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulon Progo. Hal ini dikarenakan hampir seluruh penduduk di desa Jatisarono bermatapencaharian sebagai peternak selain  matapencaharian mereka yang utama sebagai petani. Pemilihan sasaran kegiatan ini diambil dengan pertimbangan mereka dapat memberikan informasi tentang penerapan teknologi biogas yang mereka miliki kepada keluarga, tetangga maupun peternak sapi lain di sekitar desa Jatisarono.

Kegiatan penerapan IPTEK ini akan bekerja sama dengan masyarakat desa Jatisarono, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo sehingga mereka dapat menentukan waktu yang tepat untuk peaksanaan kegiatan ini. Selain itu, pada pelaksanaannya akan dikoordinasikan dengan dinas peternakan setempat bekerjasama dengan peternak sapi terkait dalam pembuatan sumur biogas.

Metode Kegiatan PPM

Metode kegiatan ini meliputi ceramah, diskusi-informasi,workshop, dan disseminasi terbatas. Secara lebih rinci metode yang digunakan dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Menjelaskan kepada peserta pelatihan mengenai berbagai macam cara mengelola limbah ternak sapi dan pembuatan biogas
  2. Diskusi-informasi membahas cara mengatasi kesulitan dalam memulai pembuatan biogas serta menjelaskan cara mengatasinya sehingga dapat dihasilkan biogas yang ramah lingkungan.
  3. Para peserta diberi kesempatan untuk mencoba merancang, dan membuat alat yang digunakan dalam pembuatan biogas.
  4. Hasil uji coba selanjutnya dipresentasikan untuk bahan diskusi dan selanjutnya siap didisseminasikan di lingkungan rumah tangga lainnya.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini diharapkan para petani dan peternak di desa Jatisarono, kecamatan Nanggulan kabupaten Kulon Progo dapat membentuk kelompok usaha pembuatan biogas. Hal ini dimaksudkan untuk perintisan wirausaha dan mereduksi masalah sosio-kultural yang ditimbulkan oleh limbah ternak sapi.

Langkah-langkah Kegiatan PPM

Seperti telah diuraikan pada bagian pendahuluan bahwa terdapat limbah kotoran ternak (sapi) yang cukup melimpah di desa Jatisarono, kecamatan Nanggulan kabupaten Kulon Progo. Melimpahnya jumlah limbah tersebut belum diiringi dengan sistem pengelolaan dan pemanfaatan yang baik. Pemerintah dalam hal ini dinas peternakan dan Pemda Kulon Progo telah memberikan tawaran bantuan jika peternak dan petani bersedia mengelolanya. Sebagai usaha penyediaan bahan bakar alternatif dan dalam rangka mengatasi dampak sosio-kultural dari limbah ternak (sapi) maka pembuatan biogas dengan bahan utama kotoran sapi adalah salah satu bentuk solusi yang sesuai dengan misi Pemda Kulon Progo.

Hasil Pelaksanaan Kegiatan PPM dan Pembahasan

Sesuai dengan jadwal, metode dan rencana pelaksanaan program yang sudah ditentukan maka urutan kegiatan dan hasil yang diperoleh dalam kegiatan ini adalah:

  1. Penyampaian materi mengenai Biogas ditinjau dari sisi kimiawi, fisika dan ilmu sosial.

Beberapa pengetahuan yang disampaikan adalah:

–          Biogas dan apa yang terkandung di dalamnya sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.

–          Mekanisme reaksi yang terjadi di dalam pembuatan Biogas dalam rangka mengetahui bagaimana caranya agar Biogas dapat terbentuk.

–          Kotoran ternak dan unsur apa saja yang terkandung di dalamnya sebagai syarat pembuatan Biogas agar diketahui jenis kotoran ternak apa saja yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan.

–          Konversi banyaknya energi yang dihasilkan Biogas setiap liternya.

–          Mekanisme pembuatan, penggunaan dan perawatan instalasi Biogas.

–          Penanganan limbah hasil pengolahan Biogas ditinjau dari apek sosiokulturalnya

  1. Pengamatan di lapangan oleh peserta

Para peserta yang telah mendapatkan materi pengetahuan tentang Biogas dan aspek sosiokulturalnya selanjutnya mencoba melihat bagaimana mekanisme pembuatan instalasi Biogas di lapangan sesungguhnya. Kegiatan ini bertujuan untuk menjelaskan kepada peserta tentang materi yang sudah diterima dan membandingkannya dengan kondisi lapangan yang sesungguhnya. Kegiatan ini dilanjutkan dengan pengamatan, pengidentifikasian dan penyusunan data-data pendukung yang diperlukan peserta. Data-data ini yang akan dijadikan bahan peserta dalam kegiatan diskusi dengan Tim pengabdi guna memantapkan penguasaan materi yang telah diberikan.kondisi lapangan.

  1. Presentasi dan diskusi antar peserta mengenai pemanfaatan Biogas sebagai sumber bahan bakar alternatif dan aspek sosio kulturalnya.

Adapun sebagai akhir dari kegiatan yang dilakukan oleh peserta adalah presentasi dan diskusi mengenai materi pemanfaatan Biogas sebagai sumber bahan bakar alternatif dan aspek sosio kulturalnya. Setiap komponen materi yang telah diberikan didiskusikan dan dipresentasikan di depan Tim. Pada saat wakil kelompok peternak menyampaikan hasil pengamatannya maka peserta lain diberikan kesempatan untuk menanggapi hasil pengamatan yang telah dilakukan.

Pengabdian masyarakat mengenai pemanfaatan Biogas sebagai sumber bahan bakar alternatif bagi masyarakat petani dan peternak sapi di desa Jatisarono kabupaten Kulonprogo dilaksanakan pada tanggal 23 Agustus 2008. Banyaknya peserta yang mengikuti kegiatan berjumlah 35 orang dari 40 orang yang diundang oleh tim pengabdi. Para peserta merupakan penduduk desa Jatisarono yang berprofesi sebagai petani dan atau peternak sapi.

Materi yang disampaikan terdiri dari 1) Kotoran ternak sapi untuk BBM alternatif yang ramah lingkungan, 2) Konversi energi kotoran ternak sapi, dan 3) Aspek sosiokultural dari Biogas. Tim pengabdi yang memberikan materi pelatihan terdiri dari 3 orang, yaitu: Ibu Sugi Rahayu, M.Pd. M.Si., Ibu Dyah Purwaningsih, M.Si., dan Bapak Pujianto, S.Pd. Adapun pemberian materi berbentuk ceramah dan dilanjutkan dengan pengamatan lapangan oleh peserta serta diakhiri dengan presentasi dan diskusi oleh para peserta pelatihan.

Pada waktu diskusi berlangsung terlihat bahwa penguasaan peserta mengenai pengelolaan kotoran ternak sebagai sumber energi alternatif masih relatif rendah. Melalui diskusi ini, tim pengabdi menyisipkan materi-materi yang harus dikuasai peserta sebagai bekal dalam mempersiapkan pembuatan instalasi Biogas. Tim pengabdi selain memberikan materi tentang bagaimana cara memanfaatkan kotoran ternak sebagai sumber energi Biogas, Tim juga menjelaskan kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa dikembangkan melalui pemanfaatan Biogas tersebut serta bagaimana cara mengelolanya sehingga meningkatkan pendapatan rumah tangga.

Para peserta semakin menyadari bahwa pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber bahan bakar merupakan alternatif yang dapat dilakukan jika terdapat kesulitan penyediaan bahan bakar. Biogas yang dihasilkan dapat dikembangkan secara lebih luas untuk menyediakan bahan bakar dalam lingkup beberapa KK (Kepala Keluarga).

Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan terhadap proses kegiatan pengabdian masyarakat berupa pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber bahan bakar alternatif dan aspek sosiokulturalnya di lapangan diperoleh hasil sebagai berikut:

1. Masyarakat petani dan atau peternak sapi di desa Jatisarono menjadi paham dan mengetahui pemanfaatan residu biogas dari kotoran ternak.

2. Aspek sosio-kultural penerapan teknologi biogas dalam rangka perintisan wirausaha baru telah dipahami masyarakat petani dan atau peternak sapi di desa Jatisarono.

3. Masyarakat mengetahui prospek apa saja yang dapat dikembangkan berkaitan dengan penerapan teknologi biogas di desa Jatisarono dalam rangka community development untuk jangka yang lebih panjang.

Saran

Untuk tindak lanjut dari kegiatan ini hendaknya dikembangkan lagi mengenai model pemasaran Biogas untuk keperluan rumah tangga dalam lingkup yang lebih luas. Hal ini dimaksudkan agar para petani dan atau peternak di sekitar desa Jatisarono menjadi terinspirasi untuk mengembangkan instalasi Biogas di lingkungan mereka.

 

Daftar Pustaka

http://www.disnak.jabarprov.go.id/data/arsip

http://www.majarikanayakan.com

http://www.petra.ac.id/science/applied _technology/biogas98/biogas.htm

http://www.energi.lipi.go.id

http://www.kompascetak.com/kompas-cetak/0712/15/jogja/1045892.htm